Radar Astacita – Blora, Di tengah upaya pemerintah daerah memacu pertumbuhan ekonomi pascapandemi dan ketidakpastian global, sebuah fakta mencengangkan muncul dari jantung Kota Blora. Lapangan Kridosono, yang selama ini mungkin dianggap hanya sebagai ruang publik biasa, ternyata menyimpan kekuatan ekonomi rakyat yang luar biasa: Rp16 Miliar per tahun.
Angka ini bukan sekadar klaim di atas kertas, melainkan hasil kalkulasi riil dari pergerakan ekonomi akar rumput. Dengan asumsi sekitar 150 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menggantungkan hidup di sana, dengan omzet rata-rata Rp300.000 per hari, maka perputaran uang di lokasi tersebut mencapai Rp45 juta sehari. Dalam setahun, angka tersebut menyentuh angka fantastis Rp16,4 Miliar.
Potensi yang Terancam
Namun, ironisnya, di tengah kontribusi nyata terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) non-formal ini, geliat ekonomi Kridosono justru kerap “diusik”. Baik itu melalui wacana relokasi yang tidak matang, penataan yang bersifat restriktif, maupun hambatan operasional lainnya yang membuat para pedagang merasa tidak tenang.
Ada beberapa poin krusial yang perlu menjadi renungan bersama:
-
Penyerap Tenaga Kerja Mandiri: 150 PKL bukan sekadar angka. Itu adalah 150 keluarga yang mandiri secara ekonomi tanpa membebani anggaran daerah untuk penyediaan lapangan kerja.
-
Multiplier Effect: Uang sebesar Rp16 miliar itu tidak berhenti di kantong pedagang. Ia berputar ke pemasok bahan baku, peternak, petani lokal, hingga jasa transportasi di Blora.
-
Magnet Sosial: Kridosono telah bertransformasi menjadi pusat interaksi sosial yang murah dan inklusif bagi warga Blora. Memperumit akses pedagang sama saja dengan mengurangi daya tarik ruang publik ini.
Penataan, Bukan Pembatasan
Pemerintah Kabupaten Blora dan pihak terkait memang memiliki kewajiban untuk menata estetika kota. Namun, penataan tidak boleh membunuh penghidupan. Mengusik ekosistem yang sudah mapan tanpa solusi yang setara hanya akan menciptakan masalah sosial baru, seperti pengangguran dan penurunan daya beli masyarakat.
Jika pemerintah jeli, perputaran Rp16 miliar ini seharusnya dikelola dan difasilitasi, misalnya dengan perbaikan infrastruktur sanitasi, pencahayaan, atau bantuan promosi digital. Bukan justru menghadirkan kebijakan yang membuat para pelaku usaha kecil ini merasa terintimidasi di rumah sendiri.
Lapangan Kridosono adalah bukti nyata bahwa ekonomi rakyat Blora sangat tangguh. Menjaga keberlangsungan 150 PKL di sana bukan sekadar soal kemanusiaan, tapi soal menjaga kestabilan ekonomi daerah. Sudah saatnya pemangku kebijakan berhenti melihat PKL sebagai gangguan estetika, dan mulai melihat mereka sebagai pahlawan ekonomi lokal yang menyumbang miliaran rupiah bagi perputaran uang di Blora.


