Radar Astacita – Semalam, sebuah pemikiran mencubit benak saya: Moral exhibitionism without material confrontation. Sebuah kegelisahan yang mungkin juga menghantui banyak orang ketika melihat panggung politik nasional.
Kita melihat deretan nama besar—Rocky Gerung, Mahfud MD, Refly Harun, hingga tokoh budayawan seperti Cak Nun dan Butet—begitu vokal mengkritik rezim. Namun, mengapa kritik sehebat itu tidak pernah bermuara pada sebuah perubahan struktur yang nyata? Mengapa mereka seolah hanya menjadi “lubang kecil” di tangki tekanan tinggi yang hanya berfungsi membuang gas agar tangki tidak meledak?
Antara Kritik dan Revolusi: Sebuah Jebakan Struktural
Dalam studi sosiologi gerakan massa, fenomena ini dapat dibedah secara dingin. Kritik keras tidak serta-merta berarti revolusi. Secara fungsional, banyak tokoh kritis di Indonesia justru terjebak—atau ditempatkan—dalam posisi yang disebut sebagai Controlled Dissent (oposisi yang terkendali).
Menurut teori Safety Valve (Katup Pengaman Sosial) yang dikemukakan oleh Lewis Coser, sebuah sistem yang korup sekalipun membutuhkan ruang pelampiasan konflik agar tidak runtuh total. Di sinilah peran para tokoh tersebut: mereka menyalurkan amarah rakyat melalui narasi, diskusi, dan retorika tajam. Hasilnya? Rakyat merasa terwakili secara emosional, namun energi kemarahan itu habis di ruang diskusi tanpa pernah mengkristal menjadi mobilisasi kekuasaan alternatif.
Kooptasi dan Kenyamanan Kelas
Jika kita membedahnya dengan kacamata Antonio Gramsci mengenai Hegemoni, kekuasaan bertahan bukan hanya lewat bedil, tapi dengan menyerap kritik. Negara memberikan panggung, media memberikan ruang, dan publik memberikan legitimasi moral kepada para tokoh ini. Inilah bentuk kooptasi modern. Kritik dibolehkan selama ia tetap berada dalam koridor hukum positif, meski hukum itu sendiri mungkin sudah rusak secara moral.
Secara objektif, kita juga harus melihat Circulation of Elite. Kebanyakan tokoh kritis kita berasal dari kelas menengah-atas yang terdidik. Mereka memiliki reputasi, akses hukum, dan keamanan ekonomi. Bagi kelas ini, revolusi total adalah risiko yang terlalu besar karena bisa menghilangkan segalanya. Maka, pilihan rasionalnya adalah “reformasi terbatas”—mengkritik penyalahgunaan kekuasaan tanpa berniat merombak struktur kekuasaan itu sendiri.
Penjaga Narasi Anti-Chaos
Trauma sejarah 1965 dan 1998 nampaknya tertanam dalam di alam bawah sadar kolektif kita. Narasi “stabilitas lebih penting daripada perubahan radikal” terus direproduksi. Akibatnya, para intelektual kita sering kali menjadi penjaga gawang agar gerakan rakyat tidak melewati point of no return. Mereka memberikan kepuasan moral kepada publik (bahwa kita sudah melawan), namun secara sistemik, mereka sebenarnya adalah penstabil sistem.
Penutup: Berani Bicara Saja Tidak Cukup
Sejarah mencatat bahwa revolusi sejati tidak pernah lahir dari figur yang terlalu nyaman dengan sistem yang mereka kritik. Perubahan struktural hanya bisa lahir dari rakyat yang terorganisir, visi yang melampaui hukum yang korup, dan keberanian untuk kehilangan segalanya.
Mengatakan kebenaran dan menyatakan kejujuran memang mulia, tapi itu tidaklah cukup. Jika kita hanya berhenti pada retorika tanpa konfrontasi material terhadap kezaliman, maka kita hanya sedang menonton sirkus intelektual di atas penderitaan rakyat yang nyata.
Saatnya kita bertanya: Apakah kita ingin terus menjadi katup pengaman, atau menjadi mesin perubahan yang sesungguhnya?
Oleh: CH. HARNO (YLBH Samin Sami Aji)


