Radar Astacita – Republik ini tidak akan pernah diselamatkan oleh mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan, melainkan oleh mereka yang berani mengguncang kursi itu. Hari ini, narasi basa-basi harus dihentikan. Kita perlu bicara fakta telanjang tanpa sensor: Indonesia sedang dirampok, bukan oleh kekuatan asing, tetapi oleh anak bangsanya sendiri yang berkhianat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar penyakit oknum, melainkan telah bermetamorfosis menjadi sebuah industri. Ia memiliki jaringan, sistem, dan gerakan terselubung yang ironisnya sering kali lebih terorganisir daripada institusi negara itu sendiri.

Wajah Penjajahan Baru

Siapa pemain di balik industri kotor ini? Sebagian adalah pejabat, penegak hukum, dan pemilik modal. Mereka yang seharusnya menjadi garda terdepan menjaga kedaulatan negara, justru berbalik menjadi lintah yang menghisap darah ibu pertiwi.

Kita sedang menghadapi kelas penguasa yang memandang kekuasaan sebagai harta rampasan perang. Integritas aparat bisa disewa, jabatan bisa dibeli, dan hukum bisa membelok sesuai tebalnya amplop. Ini menciptakan sebuah ekosistem di mana para elit saling melindungi dan menutupi, sementara rakyat dipaksa bertarung melawan sistem yang rusak.

Saya tegaskan, korupsi hari ini adalah bentuk penjajahan baru. Ketika anggaran kesehatan dikorupsi, itu adalah pembunuhan massal. Ketika dana pendidikan diselewengkan, itu adalah perampasan masa depan generasi bangsa. Ketika suap merajalela di pengadilan, itu adalah penghancuran sendi keadilan. Korupsi adalah terorisme terhadap rakyat sendiri yang dilakukan dengan senyum dan tanda tangan resmi.

Rakyat Harus Mengguncang, Bukan Menonton

Para koruptor itu tidak takut pada hukum, karena mereka bisa membelinya. Mereka hanya takut pada satu hal: rakyat yang sadar bahwa mereka sedang ditipu. Oleh karena itu, reformasi kecil-kecilan tidak lagi memadai. Kita butuh guncangan besar.

Untuk menyelamatkan Republik, ada lima langkah radikal yang harus ditempuh:

  1. Pembersihan Total Institusi: Bersihkan lembaga negara dari atas ke bawah tanpa pandang bulu. Tidak ada stabilitas yang lebih penting daripada menyelamatkan negara dari kanker korupsi.

  2. Bongkar Politik Biaya Tinggi: Demokrasi tidak boleh lagi disandera oleh cukong dan rente. Sistem harus diubah agar pemimpin yang lahir adalah pelayan rakyat, bukan petugas partai atau pemodal.

  3. Transparansi Mutlak: Semua anggaran dan proyek harus dibuka ke publik. Pejabat harus siap dikoreksi setiap saat.

  4. Perlindungan Absolut Whistleblower: Negara harus menjamin keamanan mereka yang berani bersuara, bukan malah mengancamnya dengan pasal karet.

  5. Budaya Anti-Korupsi Nyata: Kita tidak butuh spanduk dan jargon, kita butuh tindakan konkret.

Indonesia Kekurangan Orang Berani

Sejarah membuktikan bahwa ketika rakyat bersatu, tidak ada kekuasaan yang mampu menyembunyikan bau busuk kejahatan. Indonesia tidak pernah kekurangan orang cerdas, tetapi kita defisit orang berani.

Maka, pesan ini adalah deklarasi perang terhadap korupsi. Kita tidak boleh takut, tidak boleh bisa dibeli, dan tidak boleh diam. Jika negara ini ingin selamat, rakyat harus kembali mengambil peran sebagai pengawas tertinggi negara, bukan sekadar penonton yang paling menderita.

Hancurkan korupsi sampai ke akar-akarnya. Merdeka!


Penulis adalah praktisi hukum dari YLBH Samin Sami Aji (SSA) dan Pengacara Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI).