Radar Astacita -Blora, Ratusan warga Desa Jiken, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, hari ini menggelar aksi demonstrasi damai di depan gerbang masuk PT Pentawira, sebuah pabrik pengolahan kapur yang beroperasi di wilayah mereka. Aksi ini dipicu oleh kekecewaan warga terhadap manajemen perusahaan yang dinilai gagal memenuhi komitmen dalam memaksimalkan penyerapan tenaga kerja dari masyarakat lokal, serta dugaan pencemaran lingkungan yang semakin meresahkan.
Galuh WP, Warga asli desa Jiken menyatakan bahwa kehadiran industri besar seharusnya memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian masyarakat sekitar, namun kenyataan di lapangan berkata lain.
“Kami mendukung investasi, tetapi harus adil. Janji-janji penyerapan tenaga kerja lokal yang disampaikan saat awal pendirian pabrik tampaknya hanya isapan jempol. Banyak pemuda-pemudi desa kami yang menganggur, sementara tenaga kerja dari luar justru lebih dominan,” ujar Galuh WP dalam orasinya.
Selain isu ketenagakerjaan, fokus utama protes warga juga menyoroti dampak lingkungan dari operasional pabrik. Warga menduga kuat bahwa limbah debu dan sisa pengolahan kapur dari PT Pentawira telah mencemari udara, lahan pertanian, bahkan sumber air masyarakat.
“Setiap hari kami harus menghirup debu kapur. Lahan pertanian kami mulai terdampak, dan ini sangat mengganggu kesehatan, terutama anak-anak dan lansia. Kami menuntut PT Pentawira bertanggung jawab penuh dan segera melakukan perbaikan manajemen lingkungan yang transparan dan berkelanjutan,” tegas Galuh WP.
Tuntutan Warga
Dalam aksinya, warga Jiken mengajukan tiga tuntutan utama kepada pihak perusahaan:
-
Realisasi Penyerapan Tenaga Kerja Lokal: Mendesak PT Pentawira untuk segera mengevaluasi ulang kebijakan rekrutmen dan memprioritaskan warga Desa Jiken yang memiliki kualifikasi.
-
Audit Lingkungan Independen: Menuntut adanya audit lingkungan yang dilakukan oleh pihak independen untuk mengukur tingkat pencemaran, serta komitmen perusahaan untuk memasang teknologi penanganan limbah yang lebih efektif.
-
Pertemuan Tiga Pihak: Meminta pertemuan segera yang melibatkan perwakilan warga, manajemen PT Pentawira, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Blora untuk mencari solusi konkret dan mengikat.
Hingga berita ini diturunkan, perwakilan warga sedang melakukan mediasi dengan pihak manajemen perusahaan yang difasilitasi oleh aparat keamanan setempat. Warga mengancam akan melanjutkan aksi dengan skala yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak ditanggapi secara serius dan ada batas waktu yang jelas untuk realisasi. (Red)


