Radar Astacita – Harta, tahta, dan kini tambang. Tiga hal ini tampaknya sukses membuat organisasi yang kita cintai, Nahdlatul Ulama (NU), sedang tidak baik-baik saja. Di permukaan, semua tampak tenang, tetapi di kedalaman, arus politik sedang bergejolak hebat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Jika kita membaca peta situasi hari ini, tampak jelas ada dua kutub besar yang sedang tarik-menarik di tubuh NU. Mari kita sebut saja kubu pertama sebagai “NU Sultan”, faksi yang kini menempel erat pada jalur kekuasaan Presiden Prabowo, yang dimotori oleh Rais Aam dan Menteri Sosial, Gus Ipul.

Di sisi seberang, ada kubu “NU Kramat Raya” di bawah komando Gus Yahya, yang selama ini dikenal lekat dengan jalur “Mulyono” (sebutan populer untuk rezim sebelumnya).

Apa yang mereka ributkan? Bukan soal fiqih, bukan soal umat, tapi sinyalnya kuat mengarah pada satu hal: Siapa yang berhak mengelola kue tambang.

Drama ini sejatinya adalah kisah klasik “balas budi” yang macet di tengah jalan. Narasi yang beredar di warung-warung kopi menyebutkan bahwa jalur “Mulyono”—melalui tangan konglomerat Boy Thohir—sudah “bakar duit” banyak untuk memodali operasional dan manuver “NU Kramat Raya” di era Gus Yahya. Timbal baliknya? Tentu saja pengelolaan tambang jatah ormas itu diserahkan kepada grup Boy Thohir. Sebuah skema bisnis politik yang rapi.

Namun, manusia berencana, Tuhan (dan politik) menentukan lain. Presiden berganti, peta berubah.

Tatkala proses legalitas tambang belum sepenuhnya rampung dieksekusi, gerbong kekuasaan berpindah ke tangan Prabowo. Di sinilah “NU Sultan” bergerak. Muncul rayuan—atau mungkin tekanan—bahwa pengelolaan tambang NU sebaiknya tidak diberikan ke orang lama. Ada nama Hashim, adik Presiden, yang disodorkan sebagai pengelola baru.

Logikanya sederhana: Jalur “Mulyono” sudah selesai, kini saatnya jalur Prabowo yang menikmati panggung. Gus Ipul dan Rais Aam yang berada di lingkaran inti istana baru, tentu punya kepentingan untuk mengamankan jalur ini.

Lantas, apa yang terjadi? Terjadilah benturan keras. Kubu Kramat Raya terjepit utang budi pada pemodal lama, sementara Kubu Sultan mendesak merapat ke pemodal baru.

Ironisnya, di saat para kiai dan elit organisasi sibuk bersitegang, para elit konglomerat—entah itu geng Boy atau geng Hashim—mungkin hanya duduk santai sambil menyeruput cerutu mahalnya. Mereka tersenyum melihat ormas Islam terbesar di dunia ini diadu domba, saling sikut hanya demi menjadi “makelar” tambang.

Elitnya berebut remah-remah kue yang dilempar penguasa, marwahnya tergadaikan. NU yang seharusnya menjadi penjaga moral bangsa, malah terjebak dalam pusaran konflik korporasi.

Muter-muter ngono kui lah. Lingkaran setan kepentingan yang tak ada habisnya. Benar kata orang bijak, kalau duit sudah bicara, akal sehat seringkali mendadak lupa jalan pulang.

Kita yang di bawah cuma bisa mengelus dada. Sambil mengaduk wedang rempah, saya hanya bisa bergumam: Duh Gusti, NU-ku sayang, NU-ku malang.

Oleh: Gus Aang, Penjual Wedang Rempah Den Bagus