Radar Astacita – “Anda hebat.” Kalimat itu mungkin terdengar seperti pujian, namun hari ini saya ucapkan sebagai sebuah ironi yang menyakitkan. Anda hebat jika Anda tidak merasa sedih dan prihatin. Anda hebat jika masih bisa berjoget, berpesta, dan bercerutu, sementara di depan mata, negeri ini sedang tercabik-cabik oleh pimpinannya sendiri.
Tulisan ini tidak lahir untuk menyenangkan penguasa. Saya berdiri di sini untuk mengganggu kenyamanan kebohongan yang selama ini dipelihara. Kita harus berani mengakui bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Bukan sekadar karena bencana alam atau angka kemiskinan, melainkan karena sebuah tragedi yang lebih besar: kebenaran telah dikalahkan oleh kekuasaan, dan nurani telah mati ditikam kepentingan.
Sistematisasi Kebodohan
Rakyat Indonesia sejatinya tidak bodoh. Namun, ada indikasi kuat bahwa rakyat sedang “dibodohi” secara sistematis. Melalui pendidikan yang dilemahkan, informasi yang dimanipulasi, dan kritik yang terus dikriminalisasi, terciptalah sebuah ekosistem ketakutan.
Rakyat yang lapar sengaja dibuat sibuk hanya untuk bertahan hidup agar tak sempat berpikir kritis. Rakyat yang takut sengaja dibuat diam agar tak berani melawan. Tampaknya, penguasa yang gagal lebih menyukai rakyat yang bodoh ketimbang rakyat yang sadar akan hak-haknya.
Kebodohan hari ini bukan lagi soal “tidak tahu”. Definisi kebodohan yang paling berbahaya di era ini adalah: mengetahui kebenaran, melihat bukti kebenaran, tetapi tetap memilih mempercayai kebohongan.
Bencana Kebijakan, Bukan Takdir Tuhan
Lihatlah apa yang terjadi di Sumatra dan berbagai wilayah lain di negeri ini. Banjir, tanah longsor, dan kerusakan ekologis bukanlah semata-mata takdir atau “bencana alam” murni. Ini adalah bencana kebijakan.
Hutan dibabat, lahan gambut dikeringkan, izin tambang dan sawit diobral tanpa kendali, serta peringatan ilmiah yang terus diabaikan. Rakyat dibiarkan tinggal di wilayah yang ekologinya telah dirusak demi keuntungan segelintir orang.
Ketika bencana datang menelan nyawa, negara seringkali terlambat hadir. Dan yang paling menyakitkan, setelah semua kerusakan itu, narasi yang dibangun hanyalah “ini ujian Tuhan”, menutupi fakta bahwa ini adalah hasil dari keserakahan dan pengkhianatan terhadap mandat perlindungan lingkungan.
Kebijakan publik hari ini tidak lagi lahir dari penderitaan rakyat, melainkan dari ruang-ruang tertutup kekuasaan dan pemilik modal. Yang dilindungi bukan petani, tapi pemilik konsesi. Yang diamankan bukan lingkungan, tapi investasi perusak alam.
Hukum yang Kehilangan Arah
Konstitusi kita dengan tegas mewajibkan negara melindungi seluruh rakyat. Namun, realitas hukum kita mempertontonkan wajah yang bopeng: tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Korporasi seolah kebal hukum, sementara pelanggar HAM menikmati impunitas. Sebaliknya, aktivis dan pembela rakyat justru dikriminalisasi. Jika hukum hanya berani menindak mereka yang lemah, maka itu bukan lagi hukum, melainkan alat penindasan.
Seruan Revolusi Moral
Kesedihan kita hari ini bukanlah untuk meratap. Kesedihan ini adalah alarm bagi perlawanan moral. Bangsa yang masih mampu bersedih melihat ketidakadilan adalah bangsa yang nuraninya belum mati.
Maka, saya menyerukan kepada kaum terdidik, akademisi, advokat, mahasiswa, jurnalis, tokoh agama, dan seluruh elemen rakyat yang masih menggunakan akal sehatnya: Berhentilah berdamai dengan kebohongan. Berhentilah takut pada kekuasaan yang salah.
Sejarah tidak akan bertanya seberapa aman hidup Anda, tetapi sejarah akan mencatat: “Di mana kamu berdiri ketika rakyat dilaparkan dan alam dihancurkan?”
Kita butuh revolusi. Bukan sekadar pergantian kursi, tapi revolusi moral. Berani lawan setiap kezaliman.
Terima kasih.
Hidup Rakyat. Hidup Keadilan. Lawan Kebohongan.
Oleh: Ch. Harno
(Ketua YLBH Samin Sami Aji – SSA)


