Radar Astacita – Sebuah bangsa tidak hancur oleh serbuan musuh dari luar benteng, melainkan runtuh perlahan oleh tangan penguasanya sendiri. Kehancuran itu bermula ketika rakyat dibodohkan akalnya, dilaparkan perutnya, dan ditekan nuraninya dengan teror ketakutan.
Hari ini, saya menulis bukan sekadar untuk menghibur, melainkan untuk mencatat kebenaran yang pahit. Bahwa sejatinya, rakyat kita tidaklah bodoh. Rakyat kita “dibuat” bodoh melalui sistem pendidikan yang dimiskinkan, informasi yang dimanipulasi, serta hukum yang dipelintir demi melindungi kepentingan segelintir elite.
Ironisnya, mereka yang membodohi rakyat justru tampil dengan kepercayaan diri yang meluap-luap. Seolah kebenaran tunggal ada di tangan mereka. Padahal, meminjam sebuah ungkapan satir: “It’s only because of their stupidity that they’re able to be so sure of themselves.” Hanya karena kedangkalan nalar merekalah, mereka bisa begitu yakin pada diri sendiri di tengah kesalahan yang nyata.
Keadilan yang Dipenjarakan
Di negeri ini, kita menyaksikan fenomena di mana keadilan bukan sekadar hilang, tetapi dipenjarakan. Bagaimana mungkin kita berharap menemukan keadilan di sebuah tatanan negara di mana para penjahat justru menjadi penulis aturan mainnya?
“You will never find justice in a world where criminals make the rules.”
Hukum yang sejatinya menjadi payung pelindung rakyat, kini telah beralih fungsi menjadi alat intimidasi. Aparat penegak hukum yang seharusnya menjaga marwah keadilan, dipaksa tunduk di bawah ketiak kekuasaan. Akibatnya, rakyat dipaksa diam, patuh, dan percaya—bukan karena hukum itu adil, melainkan karena rasa takut yang ditebar secara sistematis.
Istana yang Menjadi Sirkus
Dalam filosofi budaya bangsa kita, kekuasaan adalah amanah suci, bukan barang rampasan. Pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa angkara, apalagi sekadar badut yang menghibur di panggung kekuasaan.
Namun, realitas hari ini menampar kita. Ketika seseorang yang tidak memiliki kapasitas kenegarawanan—ibarat badut—masuk ke dalam istana, ia tidak lantas berubah menjadi raja yang bijaksana. Sebaliknya, istana itulah yang berubah menjadi sirkus.
Sebuah sirkus di mana kebohongan dipentaskan secara kolosal, ketidakadilan dipertontonkan tanpa rasa malu, dan penderitaan rakyat hanya menjadi tontonan di pinggir arena. Sementara di balik layar sirkus itu, tanah rakyat dirampas, hutan digunduli, dan masa depan generasi penerus digadaikan demi keuntungan sesaat.
Rakyat Harus Melawan
Rakyat dibuat lapar bukan karena mereka malas bekerja, melainkan karena kekayaan alam mereka dirampok oleh oligarki yang rakus. Rakyat dibuat takut bukan karena mental mereka lemah, tetapi karena hukum dijadikan senjata untuk membungkam kritik.
Melalui tulisan ini, saya tegaskan: Tidak ada kekuasaan yang abadi jika ia berdiri di atas pondasi kebohongan dan ketidakadilan. Sejarah akan selalu mencatat dan berpihak pada mereka yang berani menyuarakan kebenaran, meskipun harus berdiri sendirian.
Negara ini bukan milik penjahat berdasi, bukan milik oligarki, dan bukan milik badut kekuasaan. Negara ini milik rakyat. Selama rakyat masih berani bersuara, maka keadilan belum mati.
Mari kita tolak pembodohan, kita lawan kelaparan struktural, dan kita hapus rasa takut.
Jer-Wajibing Tiyang Gesang Puniko Sinau Lan Mulang. (Sudah menjadi kewajiban orang hidup itu untuk belajar dan mengajar).
Penulis adalah Ch Harno, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Samin Sami Aji (YLBH SSA), seorang praktisi hukum dan aktivis sosial yang peduli pada isu kerakyatan dan keadilan.


