Radar Astacita – Blora, tanah kelahiran yang menyimpan potensi besar dan kehangatan khas daerah agraris, tak pernah sepi dari mimpi kemajuan. Pertanyaan yang terus terngiang di benak masyarakat, khususnya generasi muda, selalu sama: Kapan Blora benar-benar bisa maju dan melesat? Namun, melihat dinamika tata kelola pemerintahan dan BUMD akhir-akhir ini, ada ganjalan psikologis dan struktural yang memicu keresahan bersama.
Fenomena maraknya purnatugas atau pensiunan pejabat yang kembali mengisi posisi strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora menjadi sorotan tajam. Mulai dari mantan kepala dinas yang masuk dalam Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D), hingga mantan sekretaris daerah (Sekda) yang ikut mendaftar seleksi Direktur BPR Bumi Artha—salah satu BUMD vital milik Blora.
Di satu sisi, pengalaman dan rekam jejak para purnatugas tentu memiliki nilai. Namun, di sisi lain, keputusan untuk tetap “turun gunung” dan mengisi pos-pos eksekutif maupun penasihat daerah menimbulkan sinyal kegagalan regenerasi kepemimpinan.

Sumbatan Ruang untuk Putra-Putri Daerah

Pertanyaan krusialnya: Di mana posisi putra-putri terbaik Blora yang berpotensi dan berenergi baru?
Blora tidak kekurangan SDM berkualitas. Banyak anak muda asli Blora yang mengenyam pendidikan tinggi, berprestasi di tingkat nasional, memiliki ide-ide inovatif, serta membawa perspektif modern yang sangat dibutuhkan daerah di era digitalisasi ini. Ketika posisi strategis di BUMD atau tim akselerasi pembangunan kembali diserahkan kepada sosok-sosok senior yang seharusnya sudah menikmati masa pensiun, ada ruang gerak generasi muda yang secara tidak langsung tergeser.
Masa tua seharusnya menjadi momen kontemplasi, menjadi mentor dari belakang layar, atau memberikan ide secara sukarela tanpa harus memperebutkan jabatan publik dan posisi struktural. Ketika pensiunan pejabat masih berhasrat masuk dalam lingkaran manajerial dan pembuat kebijakan, muncul persepsi bahwa Blora sedang krisis kepercayaan terhadap kemampuan generasi penerusnya.

Keberanian Memberi Kepercayaan

Kemajuan sebuah daerah sangat ditentukan oleh keberanian pemimpinnya dalam melakukan peremajaan gagasan. Pengalaman masa lalu memang penting, tetapi tantangan Blora hari ini—mulai dari akselerasi ekonomi, inovasi tata kelola BUMD, pengetasan kemiskinan, hingga pemanfaatan teknologi—membutuhkan cara pandang baru yang responsif dan adaptif.
BUMD seperti BPR Bumi Artha, misalnya, memerlukan sentuhan profesionalisme modern yang lincah (agile) dan berani mengambil terobosan, bukan sekadar gaya manajerial birokrasi lama yang dibawa dari masa dinas.
Jika Pemkab Blora serius ingin membawa daerah ini melompat maju, panggung utama harus mulai diserahkan kepada putra-putri daerah yang berkompeten. Tetua dan purnatugas cukup menjadi pilar pengayom dan penasihat yang bijak di luar struktur, bukan justru mempersempit ruang kreasi anak-anak muda yang ingin berbakti untuk tanah kelahirannya.
Blora tidak akan pernah kekurangan pemikir dan eksekutor handal. Yang dibutuhkan hari ini hanyalah satu hal: keberanian untuk memberi kepercayaan penuh pada regenerasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca