Radar Astacita— Purworejo, Sudah hampir satu tahun berjalan, namun pengelolaan SPPG Kemala Bhayangkari kembali dipertanyakan. Senin (28/9/2026), sekitar pukul 09.00 WIB, kebutuhan kentang disebut masih kurang hingga sekitar 1.000 porsi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

 

Bagaimana mungkin unit yang telah menjalankan kegiatan hampir setahun masih menghadapi persoalan mendasar terkait kesiapan bahan, yang berdampak pada pengiriman yang harusnya dikirim tepat waktu menjadi terlambat untuk dikonsumsi penerima manfaat

 

Kekurangan bahan dalam jumlah besar bukan sekadar persoalan teknis. Jika benar kentang untuk sekitar 1.000 porsi, sekitar 100kg kentang belum tersedia ketika proses produksi sudah berjalan, maka patut dipertanyakan bagaimana sistem perencanaan, pengadaan, pengecekan stok, hingga pengawasan bahan baku dilakukan.

 

Dampaknya pun disebut dirasakan langsung oleh tim di lapangan. Proses memasak dan peracikan harus menyesuaikan kondisi karena bahan belum lengkap, serta keterlambatan juga terhadap penerima manfaat untuk posyandu.

 

Tak hanya soal bahan, sistem lembur juga ikut menjadi sorotan. Informasi yang diterima menyebutkan petugas bagian peracikan yang bekerja hingga sekitar pukul 04.00 WIB mendapat uang lembur Rp50.000. Sementara tim memasak yang juga bekerja hingga dini hari disebut tidak mendapatkan uang lembur.

 

Jika informasi tersebut benar, publik berhak mendapatkan penjelasan apa dasar perbedaan perlakuan tersebut

 

SPPG bukan kegiatan yang baru dimulai kemarin. Setelah berjalan hampir setahun, seharusnya persoalan mendasar seperti kesiapan bahan dan mekanisme kerja sudah memiliki sistem yang jelas.

 

Kini pertanyaannya bukan sekadar mengapa kentang bisa kurang 1.000 porsi.

 

Tetapi, setelah hampir setahun berjalan, sebenarnya apa yang sudah dievaluasi dari pengelolaan SPPG Kemala Bhayangkari

 

Hingga berita ini ditulis, pihak pengelola SPPG Kemala Bhayangkari belum memberikan penjelasan resmi terkait kekurangan bahan maupun mekanisme pembayaran lembur tersebut.

 

(Okta)