Radar Astacita – Hati kita semua hari ini berduka. Musibah bencana hidrometeorologi dahsyat berupa banjir bandang dan tanah longsor yang menerpa saudara-saudara kita di Sumatra—Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat—telah menyisakan luka yang mendalam. Data korban jiwa yang terus bertambah, ribuan rumah rusak, dan jutaan jiwa terdampak, melukiskan potret nyata dari kerentanan bangsa ini terhadap murka alam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kami, YLBH Samin Sami Aji, menyampaikan belasungkawa yang tulus atas semua korban yang meninggal dunia dan yang masih hilang. Doa kami menyertai para keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan, kesabaran, serta ketabahan yang tak terhingga dalam menghadapi ujian berat ini.

Momentum Solidaritas dan Kemanusiaan

Saat ini, prioritas utama haruslah pada fase tanggap darurat, yakni pencarian korban yang hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi. Pemerintah, TNI/Polri, Basarnas, BNPB, dan relawan di lapangan telah berjuang keras. Namun, skala bencana ini menuntut mobilisasi sumber daya yang jauh lebih besar dan terkoordinasi.

Kita semua, sebagai anak bangsa, memiliki panggilan kemanusiaan. Bantuan logistik, medis, dan trauma healing harus menjangkau seluruh titik terisolasi. Bencana ini bukan hanya urusan pemerintah daerah, melainkan bencana nasional yang harus ditangani secara terpadu oleh seluruh elemen bangsa, dari Sabang hingga Merauke. SUMATRA tidak sendiri. Kami bersamamu.

Teguran Keras dari Alam dan Evaluasi Ekologis

Namun, kesedihan dan bantuan kemanusiaan tidak boleh menghentikan kita untuk merenung. Bencana berulang dengan intensitas yang kian mematikan di Sumatra adalah sebuah teguran keras dari alam. Para pakar telah mengisyaratkan, curah hujan ekstrem adalah pemicu, namun dampak yang menghancurkan diperparah oleh rusaknya daya dukung lingkungan.

Tidak bisa dipungkiri, praktik deforestasi dan pembangunan yang abai terhadap risiko ekologis di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) telah menghilangkan benteng pertahanan alam. Hutan yang gundul membuat air hujan langsung meluncur deras, memicu banjir bandang dan longsor yang membawa material berat.

Oleh karena itu, penanggulangan pasca-bencana harus dibarengi dengan evaluasi lingkungan yang menyeluruh dan penegakan hukum yang tegas. Pemerintah harus berani meninjau ulang izin-izin perkebunan dan pertambangan yang berada di wilayah resapan dan hutan lindung. Kita membutuhkan “tobat ekologis” secara nasional, beralih dari ekonomi yang merusak menuju model pembangunan restoratif yang menyeimbangkan keselamatan rakyat dan kelestarian alam.

Semoga musibah ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk bergandengan tangan, tidak hanya dalam urusan donasi dan evakuasi, tetapi juga dalam upaya jangka panjang menjaga Ibu Pertiwi dari kehancuran ekologis.

(Ch Harno Ketua YLBH Samin Sami Aji)