Radar Astacita – Pendapat dari Ch. Harno, Ketua YLBH Samin Sami Aji, yang baru-baru ini beredar, bukanlah sekadar kritik biasa. Ini adalah sebuah diagnosa tajam yang disusul dengan resep radikal: Indonesia harus melakukan Re-Founding the Nation. Dokumen ini memaksa kita untuk melihat cermin yang selama ini kita hindari: negara ini berada dalam kondisi “gagal” secara struktural, di mana korupsi, moral yang runtuh, dan institusi yang hancur telah menjadi penyakit kronis.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kanker Korupsi dan Runtuhnya Etika

Harno dengan tegas menyebut bahwa korupsi bukan lagi penyimpangan, melainkan sudah menjadi “budaya” yang menjerat dari desa hingga pusat kekuasaan. Lebih tragis lagi, penegak hukum—jaksa, hakim, polisi—justru dituding sebagai bagian dari jaringan impunitas itu sendiri.

Di saat yang sama, ia menyoroti keruntuhan pondasi moral. Agama, yang seharusnya menjadi sumber etika, telah direduksi menjadi komoditas politik yang transaksional, sementara pendidikan hanya menjadi alat reproduksi bagi kelas elit. Dalam kondisi ini, tidak heran jika ekonomi dikuasai oleh oligarki, menciptakan jurang kesenjangan sosial yang ekstrem.

Gagasan Besar: Bukan Sekadar Tambal Sulam

Yang membuat gagasan ini menarik adalah pendekatannya yang strategis dan idealis, menolak solusi tambal sulam. Harno tidak meminta revisi UU, ia meminta REVOLUSI NILAI dan KONSTITUSI BARU.

  1. Revolusi Nilai: Ini adalah jantung dari semua reformasi. Mengembalikan fungsi agama ke pencerahan moral, bukan kontrol kekuasaan, dan menjadikan pendidikan karakter sebagai pilar utama adalah sebuah panggilan untuk kembali pada nurani bangsa.

  2. Reformasi Struktural Total: Gagasan untuk membubarkan lembaga hukum yang gagal secara struktural dan membentuk ulang dengan sistem meritokrasi yang transparan—bahkan melibatkan kontrol sipil berbasis AI—adalah langkah yang berani, bahkan subversif.

  3. Ekonomi dan Birokrasi Digital: Mengubah arah pembangunan dari kapitalisme ekstraktif menjadi ekonomi regeneratif dan memanfaatkan blockchain governance untuk transparansi anggaran adalah upaya modern untuk mencabut akar depolitisasi dan korupsi.

Kebangkitan Bukan dari Elit, Tapi dari Kesadaran

Model implementasi yang ditawarkan juga sangat terstruktur, membagi transisi menjadi tiga fase: dari pendidikan kesadaran kolektif, aliansi moral nasional, hingga rekonstruksi sistemik total dalam rentang 10–20 tahun.

Pesan penutupnya sangat kuat: “Bangsa yang selamat bukan yang besar, tapi yang jujur kepada dirinya sendiri.” Harno mengingatkan bahwa kebangkitan sebuah bangsa tidak akan datang dari rezim atau elit manapun, melainkan dari tumbuhnya kesadaran kolektif rakyat. Revolusi sejati dimulai bukan dari senjata, melainkan dari keberanian moral dan solidaritas sejati.

Opini ini jelas merupakan tantangan serius bagi semua pemangku kepentingan, terutama masyarakat sipil. Jika diagnosis krisis ini benar, maka satu-satunya jalan keluar adalah merangkul kerangka pemikiran yang radikal ini: Revolusi mental sebelum revolusi struktural.