Radar Astacita – Bencana air bah yang melanda sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam sepekan terakhir telah menimbulkan duka mendalam. Intensitas hujan yang tinggi di kawasan Sumatra bagian tengah dan utara memicu banjir bandang dan tanah longsor yang dahsyat, menewaskan ratusan jiwa dan menghanyutkan rumah, jembatan, serta infrastruktur lainnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Air bah tumpah ruah seolah tanpa ampun menerjang apa saja. Rumah, pohon, perkantoran, jembatan, hewan ternak hingga manusia hanyut. Korban jiwa pun berjatuhan. Ratusan orang meninggal,” demikian laporan dari wilayah terdampak yang kini masih dalam proses penanganan darurat.

Kerusakan Lingkungan Perparah Bencana

Pemerhati lingkungan, Agus Jumantoro, menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi diperparah oleh faktor lingkungan, terutama akibat pembalakan liar. “Kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar turut memperparah eskalasi bencana banjir bandang dan tanah longsor,” ungkap Agus Jumantoro.

Menanggapi situasi ini, Agus Jumantoro menyampaikan harapan dan seruan tegas kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah drastis dalam penyelamatan lingkungan dan pencegahan bencana di masa depan.

Seruan kepada Presiden Prabowo: Ikuti Jejak Soekarno dan Megawati sebagai Presiden Anti Konsesi Lahan Sawit

Agus Jumantoro secara khusus menyoroti kebijakan yang pernah diambil oleh dua mantan Presiden RI, Soekarno dan Megawati Soekarnoputri, yang dinilainya tegas terhadap eksploitasi lahan.

“HANYA BUNG KARNO DAN MEGAWATI PRESIDEN ANTI KONSESI LAHAN SAWIT,” serunya, mengacu pada sikap keras kedua pemimpin tersebut dalam membatasi atau menolak konsesi besar yang berpotensi merusak ekosistem hutan, khususnya untuk ekspansi lahan sawit.

Agus berharap Presiden Prabowo Subianto dapat mengikuti langkah Soekarno dan Megawati dengan menerapkan kebijakan anti-konsesi lahan sawit yang ketat, terutama di wilayah rawan bencana, sebagai upaya fundamental untuk menghentikan deforestasi yang menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi. Aksi nyata ini dianggap krusial untuk mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.