Radar Astacita – “Jangan jadi manusia bisu.” Kalimat ini bukan sekadar jargon, melainkan sebuah panggilan tajam bagi nurani kita. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali memuja jabatan dan kekayaan, kita diingatkan bahwa mengatakan kebenaran saja tidaklah cukup. Kebenaran harus dibarengi dengan keberanian untuk melawan segala bentuk kezaliman, dan senjata paling abadi untuk perlawanan itu adalah literasi.
Keabadian dalam Tulisan
Menulis adalah cara kita menolak untuk dilupakan oleh sejarah. Sebagaimana pepatah klasik mengatakan, Verba volant, scripta manent—yang terucap akan hilang tertiup angin, yang tertulis akan abadi. Literasi bukan sekadar mengeja huruf, melainkan sebuah kerja intelektual untuk mendokumentasikan keadilan dan menyuarakan mereka yang terbungkam.
Sosok Soesilo Toer: Tamparan bagi Hedonisme Intelektual
Kita perlu menengok ke Blora, Jawa Tengah. Di sana, seorang pria tua bernama Soesilo Toer menjalani hari-harinya dengan memulung sampah. Namun, jangan salah sangka. Di balik tumpukan barang rongsokan itu, bersemayam otak seorang Doktor (Ph.D.) lulusan University Patrice Lumumba, Rusia.
Adik kandung dari sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer ini adalah anomali di zaman modern:
-
Intelektualitas Tanpa Gengsi: Meski menguasai bahasa Rusia, Inggris, Belanda, Jerman, dan Jawa, ia tidak menggunakan gelarnya untuk memburu jabatan birokrasi yang empuk.
-
Kejujuran Radikal: Ia memilih hidup sebagai pemulung demi menjaga independensi dan kejujuran hidup, sebuah pilihan yang mungkin dianggap “gila” oleh mereka yang menyembah status sosial.
-
Dedikasi Literasi: Melalui Perpustakaan Pataba, ia terus merawat warisan pemikiran keluarga Toer dan produktif menulis buku. Baginya, menulis adalah nafas, dan kesederhanaan adalah martabat.
Melawan Kezaliman dengan Kerendahan Hati
Kezaliman sering kali muncul dari keserakahan dan kesombongan. Soesilo Toer mengajarkan kita bahwa perlawanan tidak selalu harus dilakukan dengan teriakan di atas podium. Konsistensi untuk hidup jujur, terus menulis, dan mencerdaskan bangsa melalui perpustakaan adalah bentuk perlawanan yang paling subversif terhadap sistem yang korup.
Dunia hukum dan aktivisme, seperti yang kita geluti di YLBH SAMIN SAMI AJI, harus mengambil api semangat dari sosok seperti Soesilo. Kita tidak boleh menjadi “manusia bisu” saat melihat ketidakadilan. Literasi harus menjadi alat advokasi, dan tulisan harus menjadi pembelaan bagi mereka yang tertindas.
Jika seorang doktor lulusan luar negeri mampu merendahkan hati menjadi pemulung demi sebuah prinsip kebenaran dan literasi, apa alasan kita untuk bungkam? Mari menulis, mari melawan, dan mari jadikan karya kita sebagai prasasti keabadian. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa tinggi jabatan kita, tapi seberapa besar keberanian kita dalam menyuarakan kebenaran.
Oleh: Ch. Harno (Ketua YLBH SAMIN SAMI AJI)


