RADAR ASTACITA – BLORA, Ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Blora, Jawa Tengah, mengalami gejala keracunan massal, diduga setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari Selasa, 25 November 2025. Insiden ini sontak memicu kemarahan publik dan menjadi viral di media sosial, dengan salah satu tokoh publik, Kalis Mardiasih, mendesak pertanggungjawaban penuh dari pengelola program.
Data dari pihak sekolah menunjukkan bahwa setidaknya 198 hingga 204 siswa dari total 955 siswa SMPN 1 Blora melaporkan mengalami gejala lemas, mual, dan diare berulang. Sejumlah siswa, termasuk 20 anak yang masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Dinas Kesehatan Tentara (RS DKT) Blora, membutuhkan penanganan medis segera.
Tuntutan Tegas dari Pihak Keluarga
Kasus ini menjadi sorotan tajam setelah akun media sosial aktivis dan penulis, Kalis Mardiasih, memposting serangkaian tuntutan keras, mengungkapkan bahwa salah satu korban adalah keponakannya, murid di sekolah tersebut.
Dalam unggahan viralnya, Kalis Mardiasih secara spesifik menuntut:
“Saya menuntut tanggung jawab pemilik dapur dan pengelola SPPG (Satuan Pelaksana Program Gizi) dan berikan hak pemulihan pada anak sesuai UU Kesehatan!”
Ia juga mempertanyakan komitmen pemerintah dan pengelola program terhadap keselamatan anak-anak:
“Jadi rakyat udah teriak-teriak hentikan MBG dan evaluasi total tata kelola pun nggak akan didengar karena kalian beneran nggak peduli kan pada hidup dan kesejahteraan anak-anak kami?”
Dugaan Sumber Keracunan
Beberapa siswa yang dirawat melaporkan adanya keanehan pada menu yang disajikan. Chelos, siswa kelas IX, mencurigai potongan buah melon yang terasa “sedikit aneh.” Sementara itu, Zoe Zevana, siswa kelas VIII, menyebut menu sayuran (campuran wortel dan daun mirip pakcoy) memiliki aroma tidak biasa dan berlendir.
Pihak sekolah dan tenaga kesehatan setempat telah berkoordinasi untuk menangani siswa yang terdampak dan tengah melakukan pemeriksaan sampel makanan guna menelusuri sumber kontaminasi yang pasti.
Insiden ini bukan kali pertama program MBG di Blora disorot. Sebelumnya, sempat viral mengenai adanya dugaan perjanjian yang mewajibkan sekolah untuk merahasiakan kasus keracunan atau keluhan terkait makanan MBG, meskipun perjanjian tersebut diklaim telah dicabut.
Kasus dugaan keracunan massal ini memperkuat desakan publik agar pemerintah daerah dan penyelenggara program MBG segera melakukan investigasi menyeluruh, mengevaluasi ulang total tata kelola, dan memastikan standar kebersihan serta keamanan pangan yang ketat demi menjamin keselamatan dan kesejahteraan anak-anak sekolah.


